Bagaimana Bisa GPS Mengacaukan Otak Manusia?

Published On June 27, 2018 | By Proman5Jam | Editor's Picks, Gadget, Health

Ternyata, menggunakan teknologi GPS (Global Positioning System) dapat “mematikan” bagian-bagian otak yang biasanya akan membantu seseorang menemukan tujuan dengan mensimulasikan rute berbeda.

Teknologi canggih seharusnya bisa memudahkan hidup manusia menjadi lebih efisien. Tetapi, penelitian terbaru justru menemukan hal mengejutkan terkait dengan penggunaan gadget dan pengaruhnya terhadap otak.

GPS Memudahkan Pekerjaan 

Semua orang mungkin akan setuju bahwa aplikasi peta dan navigasi pada gadget akan menyelamatkan hidup manusia zaman sekarang. Kita semua akan dengan mudah mengetahui ke mana akan pergi tanpa harus pusing dengan peta cetak lagi. Tak perlu berdebat harus membelokkan mobil ke kiri atau ke kanan tanpa tujuan.

Namun, teknologi GPS dapat membuat otak seseorang tak bergerak ke mana pun.

Dengan adanya GPS, otak mengandalkan aplikasi tersebut sehingga jaringan korteks pun tak mendapatkan stimulasi yang memaksanya meningkatkan aktivitas. Bagian otak tak merespon apa yang disajikan oleh GPS. Sementara bila mencari jalan secara manual, otak akan beraktivitas mulai dari merencanakan perjalanan, menghitung waktu, hingga mencari jalan yang tepat.

GPS Membuat Otak Menjadi Malas 

Sebuah penelitian di London Inggris telah mengukur aktivitas di hippocampus, bagian otak yang digunakan untuk memori dan navigasi, dan korteks prefrontal yang digunakan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Dalam penelitian tersebut terjadi perbedaan signifikan antara relawan yang melakukan navigasi di jalan secara manual. Mereka terlihat melakukan aktivitas dengan banyak opsi. Berbeda dengan relawan yang melakukan navigasi dengan bantuan gadget. Nyaris tidak terlihat aktivitas yang dilakukan mereka.

Hal serupa dilakukan terhadap supir taksi di London. Supir yang tak menggunakan GPS banyak belajar mengenali jalan dengan rangsangan otak hingga aktivitas hippocampus melonjak. Berbanding terbalik dengan mereka yang menggunakan GPS, otaknya hanya melakukan sedikit aktivitas pencarian tujuan.

Singkatnya, jika menggunakan GPS, otak seseorang tidak belajar cara menyusun petunjuk untuk dirinya sendiri – yang akan dilakukan hippocampus dengan mensimulasikan rute potensial.

Mungkin mencari jalanan di sebuah kota besar akan memaksa otak seseorang bekerja lebih berat daripada mencari sebuah tempat di pedesaan, misalnya. Meski demikian, lain kali pembaca Proman5Jam ingin mencari lokasi tertentu, biarkan otak Anda bekerja, alih-alih melihat pada gadget.

Mengubah Kebiasaan Phubbing 

Mengapa sebaiknya orang-orang mengurangi intensitas ikatannya dengan gadget? Karena sudah banyak bukti yang memperlihatkan bahwa ponsel mematikan kualitas percakapan antar manusia, dengan kenyataan yang sudah jamak terlihat: mereka (atau mungkin Anda, pembaca Proman5Jam?) selalu mengecek ponsel setiap 3-5 menit sekali. Benarkah?

Phubbing, atau lebih sering melihat gadget daripada lawan bicara yang ada di depan kita, mengakibatkan otak semakin malas berpikir dan lawan bicara merasa tidak dihargai. Gadget dianggap lebih penting dan mendesak daripada seseorang di hadapan kita.

Otak tidak bekerja maksimal ketika manusia membuka gadget-nya karena otak merespon bahwa semua sudah dengan mudah dikerjakan pada sebuah gadget.

Bagaimana menurut Anda? Silakan berbagi pengalaman ketika mencari tujuan dengan menggunakan GPS atau pun peta cetak di kolom komentar.

Like this Article? Share it!

About The Author

Pria yang penuh dengan antusiasme, Memiliki energi lebih untuk selalu melakukan petualangan baru yang penuh tantangan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *